Nasib Kampus Akness Terancam Ditutup, Pemkab Sorsel dan Unipa Diminta Perhatian Serius

0
63

MAYBRAT,PTC-Staf pengelola Kampus Akademi Komunitas Negeri Sorong Selatan (Akness), Tohomas Yater menyatakan, nasib Kampus Akness tidak lama lagi terancam akan ditutup kembali, olehnya, pemerintah setempat dan Universitas Papua sebagai induk Kampus Akness dituntut perhatian secara serius terhadap nasib malang Kampus tersebut, Selasa (28/7/2020)

Yater mengatakan, Kampus yang didirikan pada tahun 2014 dengan orientasi awalnya yakni pengembangan komoditi lokal sagu itu, mulai mengalami keterpurukan nasipnya pada saat momentum kontestasi politik yaitu Pilkada kabupaten Sorsel pada tahun 2018 silam, akhirnya komitmen awal yang dibangun bersama Pemda setempat pun jauh dari harapan.

“Kalau dilihat, kampus ini juga telah berhasil menghasilkan beberapa lulusan kita yang terserap di kabupaten Sorsel ini, ada yang di dinas pertanian penyuluhan dan tanaman pangan, ada yang mengajar di TK, SD, dan ada juga yang kini melanjutkan pendidikannya di UNIPA untuk D3 dan S1,”kata Yater.

Tak hanya itu, lanjut Yater, karena kurangnya dukungan pendanaan dari pemerintah Sorsel, mengakibatkan kampus yang berkedudukan di kabupaten dengan julukan 1001 sungai ini pun hingga saat ini proses penerimaan mahasiswa baru dan proses pembelajarannya dihentikan total sampai jangka waktu yang tidak ditentukan.

“Padahal secara kelembagaan, kampus induk Unipa Manokwari siap mendukung proses pembelajaran di kampus ini demi mengembangkan potensi sagu sebagai komoditi unggulan di kabupaten Sorsel,”tandas Yater.

“Jadi untuk meningkatkan sagu sebagai produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi, maka perlu dipersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul,”tambahnya.

Menurut Yater, dalam roadmap pengembangan kampus Akness sendiri telah mencanangkan sepuluh sampai lima belas tahun kedepan, tidak hanya menjadi pusat pembelajaran tetapi juga pusat riset teknologi sagu mulai dari hulu hingga hilir.

Polemik Akness tersebut juga turut mendapat tanggapan seorang alumni kampus Akness, Kritian Tugukeri.
Ia bahkan merasa optimistis, bahwa kampus kedepannya tidak hanya sampai jenjang D2 saja, namun akan berkembang sampai S1 dan S2. Ia pun turut sesal, pasalnya, banyak adik-adiknya yang hendak mendaftar di kampus tersebut, namun karena tidak ada perhatian serius pemerintah akhirnya dari mereka ada yang memilih kampus lain dan ada pula memilih menganggur karena tidak dibuka pendaftaran.

“Sudah dari tahun 2018, sampai penerimaan tahun ini, banyak adik-adik kami yang ingin mendaftar di Aaknes namun informasi dari kampus akness bahwa tidak ada penerimaan mahasiswa baru karena tidak ada biaya operasional” Sesal dia

Sementara, menurut pengelola kampus akness lainnya Hendrik Aidore, berpendapat bahwa kampus Akness sendiri sampai sejauh ini banyak membantu anak-anak didik yang lanjut ke pendidikan tinggi, namun banyak dari mereka yang terkendala soal biaya terutama dari pemkab Sorsel.

“Beberapa dari kami juga yang mendapat dukungan untuk meningkatkan kapasitas dengan bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi, ada 4 orang yang telah menyelesaikan S2, sementara 2 orang sekarang ada di UGM, ini semua dilakukan untuk meningkatkan kapasitas SDM di kampus Aakness, pemerintah pusat sendiri telah menyediakan dana dan aset yang besar untuk mendukung pendirian kampus ini, namun jika dukungan ini terhenti dan kampus ditutup maka kita semua yang akan rugi, bukan hanya pemda Sorsel namun masyarakat kita pun rugi karena tidak ada investasi SDM kedepan”pungkasnya. (Charles Fatie/R2)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here